Opini di Media Massa


Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Globalisasi dan Eksistensi Pendidikan Islam

[Diterbitkan di Harian Pagi Riau Mandiri Tanggal 5 Mei 2010]

Hiruk pikuk mewarnai belantara pendidikan nasional Indonesia dewasa ini,  semakin hari tampaknya semakin runyam, permasalahan selalu silih berganti ibaratkan seperti musim kemarau yang berganti dengan musim penghujan yang kesemuanya itu tidak ada membawa perubahan kearah yang lebih baik. Pro-kontra kurikulum yang selalu berganti, dibumbuhi oleh kontroversialnya produk hukum yang bernama UU BHP, dan masih menjadi debate table nya Ujian Nasional (UN) antara tetap dijadikannya sebagai  standar kualitas kelulusan atau  dihapuskan, mungkinkah dengan kondisi seperti itu Sistem Pendidikan Indonesia bisa menjawab tantangan globlalisasi ?

 

Potret Buram Pendidikan Kita

Kualitas lembaga pendidikan yang buruk di Indonesia mempunyai implikasi terhadap lulusan (output) yang dihasilkan tidak memiliki kemampuan dan keahlian (capability  and skill) khusus di bidang masing-masing, dalam kontek sekarang pengangguran di Indonesia merupakan angka tertinggi bila dibandingkan dengan Negara-negara yang ada di Asia Tenggara pada tiga tahun yang silam saja tepat nya 2006, tidak kurang tiga juta sarjana yang menganggur yang diakibatkan belum tertampung oleh lapangan kerja yang ada. Banyak generasi terpelajar yang menganggur memperlihatkan adanya ketidak tepatan dalam proses pembelajaran dan sistem pendidikan di lembaga pendidikan kita hari ini

Menurut Sujono Samba, penulis buku Lebih Baik Tidak Sekolah, pendidikan adalah manifestasi dari kehidupan yang ada, proses memanusiakan manusia. Pendidikan akan hilang ruhnya ketika tidak ada suasana  yang memerdekakan manusia akan berkualitas apabila ia sanggup memecahkan persoalan hidupnya, kreaktif, mandiri, dan beretika dan terus bersemangat mengembangkan ilmu pengetahuan[1], tetapi sekolah hampir tidak pernah memberikan ruang untuk yang cukup untuk berkembang nya potensi individu, dari kurikulum, buku pelajaran dan sampai kepada pakain siswa semuanya diseragam kan, bukan berarti piagam maupun Ijazah tidak diperlukan, ijazah tetap diperlukan manakala angka dan teks yang tertera benar-benar mengukur tingkat pemahaman dan kompetensi yang diperoleh dengan cara yang benar. Banyak indikasi yang mensinyalir tinggi nya standar kelulusan hari ini tidak  bisa menjamin tinggi nya mutu pendidikan bangsa kita, karena telah menjadi rahasia umum bahwa UN  yang diadakan tiap tahun yang mengerjakan nya adalah guru, anak didik tinggal menerima hasilnya, inikah bangsa yang bermutu?.Nauzubillah Summa Nauzubillah.

Pendidikan yang berjalan selama ini cendrung mengarah kepada masyarakat kapitalis dan individualis yang jauh dari dasar dan karakter budaya dan tradisi bangsa yang menjunjung tinggi niilai kebersamaan, kekerabatan dan gotong-royong

Suatu hal yang perlu kita sadari adalah fenomena diatas wajar terjadi karena survey mengatakan hanya 21,07 % guru SDN dan 28,94 % (diswasta)  yang layak mengajar di Indonesia, 54,12%  SMP (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta),  SMK 55,45% (negeri) dan 58,26 (swasta)

Islamisasi Sains

Dalam Bab VIII pada pembahasan NDP (Nilai Dasar Perjuangan) HMI dijelaskan tentang Sains Islam, terjadi Islamisasi Sains dari pengaruh gereja katolik Roma dan Yunani pada masa itu kemudian dinaturalisasikan kepada konsep awal dari sebuah sains, yaitu bersifat universal
Islamisasi sains dapat dimulai dengan menggagas unutk meletakan dasar bagi landasan epistemologiny  yaitu dengan membuat klasifikasi ilmu pengetahuan berdasarkan basis ontologinya serta methodology yang sesuai dengan (Spirit) Ilam itu sendiri. Yaitu ketauhidan (Theology ) Ma’ad / hari akhir (Escatology) serta Kenabian[3].

Islamisasi sains dengan pelabelan ayat-ayat Alquran atau hadits yang dipandang sesuai dengan penemuan sains mestilah dihindari karena kebenaran Alquran adalah abadi , mutlak dan universal, sementara kebenaran-kebenaran sains modern selain bersifat tenporer dan hanya benar dalam lingkup ruang dan waktu tertentu saja dan sains ini juga bersifat materialistic dan positivisme
Disebabkan pendekatan demikian akan menuai jalan buntu karena seiring berubahnya teori-teori sebelumnya dengan penemuan teori yang baru. Dengan demikian ayat-ayat yang yang dipandang relevan dengan dengan teori sebelum nya akan menjadi controversial maupun dipertanyakan relevansinya.

Begitu juga Islamisasi sains tidak dengan upaya mendengungkan ayat-ayat Alquran tentang kewajiban berilmu pengetahuan kepada telinga generasi muda karena upaya tersebut berkaitan dengan sumber  daya manusia (SDM) muslim yang manyoritas telah atau berkembnag tidak sesuai dengan sains Islam
Namun sebuah pendekatan yang perlu dilakukan adalah dengan membuat klasifikasi ilmu pengetahuan dengan menetapkan status dan basis ontologinya, sebab ia merupakan basis dari epistemologinya
Suatu hal yang perlu di underline adalah Islam tidak pernah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan kepada ilmu agama dan ilmu umum kecuali pada keperluan penyusunan kepustakaan agar terciptanya keseragaman dan tidak ada terjadinya pencampuran judul buku, namum dalalm tataran aflikatif Islam tidak pernah mengkalisifikasikan ilmu pengetahuan
Eksistensi Pendidikan Islam

Umat Islam sudah lama mengidealkan pendidikan Islam. Mereka kemudian membangun madrasah sejak tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah dan bahkan sampai tingkat perguruan tinggi. Sedemikian tinggi kepercayaan mereka bahwa lembaga pendidikan Islam mampu mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang diidealkan, yakni menjadi orang beriman, beramal saleh serta akhlakul karimah.
Untuk membangun lembaga pendidikan, karena tingginya semangat yang mereka miliki, tidak peduli dengan keterbatasan tenaga, sarana dan juga dana yang digunakan untuk menyangga program yang dikembangkan itu. Akibatnya, tidak sedikit lembaga pendidikan yang dirintis dan dikelola masyarakat kondisinya sangat memprihatinkan. Proses pendidikan kemudian berjalan apa adanya. Mereka rupanya kepercayaan bahwa kegiatan pendidikan yang sebatas berlabel Islam itu agar mampu melahirkan lulusan yang lebih baik bilamana dibandingkan dengan lembaga pendidikan selain itu. Kualitas, seolah-olah hanya diukur dari label yang disandang, dan bukan menyangkut isi yang berhasil dikembangkan
Tarbiyah Islamiayah itu apa?

Menurut Seorang Pakar Islam, Al Habib Abu Bakar al Masyhur al Adni, Tarbiyah Islamiyah adalah pendidikan dan peningkatan diri atas adab, akhlak, patuh akan syariat dan jauh akan larangannya. Mengikuti kata hati berdasarkan rasa tanggung jawab terhadap Dinnya serta rasa cinta pada Allah Swt. dan Rasulnya SAW,  juga berkhidmat dengan cara yang benar pada umat sembari memasyarakatkan kebaikan dan menepis kehinaan dan kerendahan moral.

Alhabib juga menambahkan bahwa dalam Tarbiyah Islamiyah terdapat berbagai manhaj (methode) diantara nya Hadrhomi dan pada prinsipnya methode itu semuanya sama. Tidak ada perbedaan antara keduanya hanya saja manhaj pada ‘Madrasah Hadhrami’ merupakan salah satu contoh Tarbiyah Islamiyah yang cukup berhasil menghubungkan antara generasi sekarang ini dengan hakekat keberagamaan yang lebih lurus dan sempurna, ini semua dikarenakan ‘Madrasah Hadhrami’ mempunyai sistem pendidikan permanen dan kokoh yang diperoleh selama fase pembangunannya diantaranya:
Pertama, Ilmu dan pengamalannya, ikhlas, wara’ (menjauhi hal-hal yang syubhat), taqwallah. serta konsisten dengan mengamalkan semua itu.kedua, Menyerukan dakwah karena Allah Swt. dengan memberi nasihat yang baik dan bijaksana. Keiga, politik ‘patah pedang’ sebagai motto pengabaian kepemimpinan duniawi-material oriented yang menyebabkan pertikain tetapi masih memperhatikan batasan-batasan yang diperkenankan oleh syariat. Dan keempat, hidup damai dalam komunitas majemuk, selaras dengan apa yang Allah Swt  ridhoi sehingga dapat menciptakan kedamaian dunia akhirat.

Tarbiyah Islamiyah Menjawab Tantangan Globalisasi

Tarbiyah Islamiyah sebagai sebuah pemikiran, tidak kami dapati padanya suatu makna pembenaran terhadap kontra eksistensi globalisasi, agresi propaganda atau lain sebagainya. karena  seluruh madrasah Tarbiyah Islamiyah terintangi kelemahan kemampuan dan hampir semuanya terinfeksi gejala peradaban kekinian. Disamping pula kurangnya sarana yang mampu untuk melakukan konfrontasi dengan tantangan zaman, kita tahu bahwa Islam dengan teori edukasi, pengajaran, ekonomi dan sosialnya yang kokoh sesungguhnya mampu meluruskan seluruh problematika sosial kontemporer semisal: sekularisme, komorsialisasi pendidikan, dan semua ikon globalisasi. Hanya saja penjajah dengan politiknya telah memberikan andil negatif (melalui sejarahnya yang panjang) semenjak awal fase kelemahan umat (marhalah ghutsaiyah) atas tujuan utama Tarbiyah Islam serta mereduksi pengaruhnya di tataran praktis.
Pendidikan Islam mampu menghadapi tantangan jaman dengan semua yang tercakup di dalamnya hanya saja jiwa, harapan dan cita-cita serta minat generasi muda sekarang telah tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang tidak Islami. Maka sulitlah bagi mereka untuk mengakui jatidiri mereka dan sulit untuk keluar dari pengaruh psikologis yang tersebar di dalam kehidupan mereka untuk kembali kepada pendidikan Islam yang benar. Lebih-lebih pendidikan Islam tidak mempunyai (sampai sekarang) pakar pendidikan lembaga-lembaga Islami yang mampuni untuk menghadapi dan mereorganisasi semua kelemahan ini.
Oleh karena itu harus ada tahap waktu, organisasi, training dalam proyek pengembalian peran ‘madrasah’ Islam dalam pengertian pendidikan yang benar.***

Oleh : Assyari Abdullah

Penulis adalah Anggota PSIK Pekanbaru Riau

Mahasiswa Public Relations  Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau

Kabid. PA HMI Cab. Pekanbaru, Riau

Link Artikel :

Harian Pagi Riau Mandiri

Link Download FDP

Harian pagi Riau Mandiri

 

Ramadan dan Tradisi Balimau Kasai

[Diterbitkan di Harian Pagi Riau Mandiri Tanggal 11 Agustus 2010]

Tak lekang karena panas, tak lapuk oleh hujan” mungkin ungkapan ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari di wilayah Provinsi Riau sebagai masyarakat yang memiliki peradaban dan adat istiadat  yang tinggi.

Ungkapan tersebut sangat sederhana namum kaya akan interpretasi yang dikandungnya, idiom tersebut memberikan deskripsi bahwa adat yang terdapat di daerah kita ini akan selalu eksist dan terus berdiri yang tak akan lapuk dimakan usia ataupun lusuh ditelan zaman yang semakin hari semakin berkembang.

Diantara adat yang masih bertahan sampai hari ini adalah Tradisi mandi Balimau Kasai yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Provinsi Riau, khususnya adalah Kabupaten Kampar dan kabupaten lainnya yang ada dalam ruang lingkup Provinsi Riau.
Mandi Balimau Kasai sendiri adalah sebuah upacara tradisional adat yang telah turun-temurun  bagi masyarakat Kampar untuk menyambut bulan suci Ramadan. Mandi Balimau Kasai biasanya dilaksanakan sehari menjelang masuknya bulan puasa. Upacara tradisional ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa Ramadan di dalam kehidupan masyarakat Kampar yang agamis dan dikenal dengan sebutan serambi mekahnya Provinsi Riau.

Nilai Filosofis
Mandi balimau kasai tersebut mengunakan limau/jeruk dimana  limau bertujuan untuk membersihkan kulit kepala dari ketombe, membersihkan kuku yang terdapat pada jari kaki dan tangan. Sedangkan Kasai tersebut terbuat dari beras dan kunyit yang dihaluskan, yang berfungsi sebagai menghaluskan kulit dan wajah, yang tepatnya sekarang lebih dikenal dengan sebutan luluran. Tradisi ini sudah lama dilakukan secara turun-temurun, Tidak ada yang tahu kapan persis adanya tradisi ini. Akan tetapi kemungkinan besar kegiatan tradisional ini telah dilakukan ratusan tahun yang lalu.

Mandi Balimau kasai tersebut bukanlah termasuk sunnah rosulullah, melainkan hanya sebagai tradisi semata yang memiliki nilai filosofis yang tinggi bagi masyarakat Kampar dan sekitarnya, Selain momen membersihkan diri secara zahir, mandi Balimau Kasai juga merupakan momentum untuk menjalin silaturrahmi dan acara saling maaf memaafkan dalam rangka menyambut tamu agung yaitu Syahru Ramadan Syahrus Siyam, jadi bukanlah sebuah keyakian yang memiliki dalil naqli  secara qat’i. tapi ini lebih kepada sebuah adat yang bersendikan syara’ (Syariat Islam) syara’ bersandikan Kitabullah yang secara filosifisnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam
Penyelewengan Makna
Tidak dapat kita pungkiri bahwa kemajuan zaman hari ini secara langsung maupun tidak memberikan dampak negative terhadap kehidupan kita dalam kerangka adat istiadat, banyak terjadi distorsi sejarah, salah interpretasi terhadap nilai-nilai adat yang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita, termasuk mandi Balimau Kasai.

Bisa kita lihat dari tahun ketahun kegiatan mandi Balimau Kasai telah dinodai dengan tindakan yang  yang berseberangan dengan syariat islam diantaranya berhura-hura, berboncengan laki-laki dan perempuan yang bukah muhrim, mandi massal yang bercampur antara laki-laki dan perempuan, mabuk-mabukan sampai kepada musik yang menjauhkan masyarakat dari mengingat Allah Swt.
Padahal dulunya, tradisi ini merupakan hal yang tergolong urgen dan sakral. Sebelum memasuki bulan puasa atau sebelum magrib, anak kemenakan dan menantu atau juga yang tua serta murid akan mendatangi orang tua, mertua, mamak (paman), kepala adat, atau guru ngaji  mereka dalam rangka meminta maaf menjelang masuk bulan suci.

Kedatangan generasi muda menjenguk orang tua akan disertai dengan iring-iringan dan membawa bahan Limau dan Kasai, serta membawa jambau (makan-makanan). Akan tetapi jangan harap hal semacam ini akan dijumpai. Jika anda datang tempat-tempat yang menyelenggarakan mandi balimau, kemungkinan besar kita hanya menjumpai tempat-tempat hiburan yang dikerumuni masyarakat dan tidak akan mengisyaratkan akan memasuki bulan Ramadan, padahal apa yang dilakukan oleh masyarakat dahulunya merupakan luapan dari kegembiraan menyambut kedatangan bulan suci Ramadan, bukankah rosul mengatakan “orang yang gembira dengan datangnya bulan Ramadan maka diharamkan oleh Allah jasatnya akan api neraka”  Semoga Ramadan ini menjdi momen untuk mendekatkan diri dengan Allah Swt. Amin Ya Robb. ***

Oleh: Assyari Abdullah, S.Sos
Mantan Kabid. PA HMI Cabang Pekanbaru Riau
Alumni PonPes. Islamic Centre Alhidayah Kampar


Harian Pagi Riau Mandiri

Download PDF

 

 

 

  1. terus lah menulis.. saya kira tulisan ini bermanfaat bagi banyak orang.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: