Golkar


Partai Golongan Karya (Golkar)

golkar

Mengukir Sejarah Baru di Era Reformasi

Partai Golkar (PG) adalah salah satu partai politik (parpol) tua di Indonesia saat ini. Pada era Orde Baru (Orba), Golkar merupakan partai yang diistimewakan. Serangkaian pemilu yang digelar hanya formalitas saja karena Golkar selalu menjadi pemenang.

Kondisi itu terjadi karena Golkar merupakan bentukan mantan Presiden Soeharto bersama kalangan militer. Selama menjadi presiden, Soeharto selalu menjadi ketua Dewan Pembina Golkar. Soeharto juga menempatkan kader Golkar di semua jabatan birokrasi dan aparatur negara. Kondisi itu memudahkan pemenangan Golkar.

Namun, kondisi itu berubah saat memasuki zaman reformasi 1998, di mana Soeharto tidak lagi berkuasa. Pada era reformasi, masa jaya Golkar hilang bersama lenyapnya era Orba.

Kondisi itu membawa Golkar untuk memata diri. Mereka ingin mandiri, tanpa mendapat perlakuan istimewa seperti pada masa Orba. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PG Idrus Marham mengemukakan untuk mencapai Golkar yang mandiri perlu paradigma baru. Langkah itu penting agar semua kader mengetahui bahwa PG tidak lagi menjadi “anak emas” seperti pada zaman Orba. Kini, dalam sistem multipartai, Golkar harus berjuang keras, bertarung dan bersaing, dengan partai lain agar bisa menjadi pemenang. Jika tidak, PG akan tersisih.

“Paradigma baru diharapkan menjadi partai politik yang modern dalam pengertiannya yang sebenarnya. Artinya, tidak lagi sebagai ‘partainya penguasa’ (the ruler’s party) yang hanya menjadi mesin pemilu atau alat politik untuk melegitimasi kekuasaan sebagaimana dalam paradigma lama,” kata Idrus di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, paradigma baru berupa prinsip kedaulatan di tangan anggota, di mana mekanisme pengambilan keputusan dilakukan secara terbuka, demokratis, dari bawah (bottom-up), serta dengan pemungutan suara secara langsung. Dengan mekanisme itu diharapkan terbuka peluang bagi kader-kader untuk memimpin partai. Akibatnya, tidak terjadi pemusatan pandangan pada pesona figur tunggal yang mengarah pada kultus individu seperti pada masa Orba.

“PG hanya akan bertahan dan berjaya jika dalam tubuh organisasinya sendiri tegak kehidupan yang demokratis,” tegasnya.

Paradigma Baru
Adanya paradigma baru membawa PG ingin mencetak sejarah baru di masa reformasi, yakni meraih suara lebih dari 30 persen pada Pemilu 2014. PG yakin target itu tercapai karena pernah menang pada Pemilu 2004 dengan perolehan 20 persen suara. Pengalaman itu bisa membangkitkan semangat Golkar untuk meraih 30 persen suara.

“Saya yakin dengan kerja keras dan soliditas seluruh kader, target politik mencetak sejarah baru 30 persen tersebut dapat diraih,” kata Ketua Umum PG Aburizal Bakrie.

ARB, sapaan Aburizal, menjelaskan hasil survei terakhir menunjukkan jika pemilu digelar saat survei, Golkar akan memenangi pemilu dengan 18,9 persen suara. Angka itu melampaui level aman pertama, yakni melewati perolehan suara Partai Golkar pada Pemilu 2009 sebesar 14,5 persen.

“Kami sedang berusaha mencapai level aman kedua, yaitu melampaui perolehan suara Partai Golkar pada Pemilu 2004 sebesar 21 persen, dan berjuang sekeras-kerasnya untuk mencetak sejarah baru pascareformasi dengan berupaya meraih suara lebih dari 30 persen pada Pemilu 2014 yang akan datang,” ujar mantan menteri koordinator kesejahteraan rakyat ini.

Untuk meningkatkan perolehan suara, Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) PG, Indra Jaya Piliang mengemukakan PG ingin mendapatkan suara dari pemilih kelas menengah pada Pemilu 2014. Upaya itu dilakukan karena selama ini PG masih kesulitan mendapatkan suara yang signifikan dari para pemilih kelas menengah itu. Kelas menengah (middle class) adalah para pemilih otonom, independen, dan secara keuangan cukup mapan.

“Ini yang menyebabkan Golkar harus tampil secara lebih akademik, intelek, supaya bisa mengambil komponen pemilih yang seperti ini,” ujarnya.

Ia mencatat jumlah kelompok rasional ini bersama dengan pemilih pemula atau baru sekitar 15-20 persen dari seluruh jumlah pemilih. “Golkar harus melakukan langkah-langkah yang edukatif, rasional, objektif, lebih banyak memunculkan sikap intelektual dan bukan emosional. Justru kalau emosional, misalnya tiba-tiba kami mengkritik Pak SBY, itu justru tidak disukai,” terangnya.

Pragmatisme
Di tempat terpisah, peneliti senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus mengemukakan tantangan Golkar untuk menjadi partai modern dihadang oleh nafsu kekuasaan elite partai yang gagal mengonsolidasi kekuatan melalui kaderisasi. Hampir tiga periode kepemimpinan PG di era reformasi selalu ditandai dengan pragmatisme elite partai yang hanya menjadikan partai sekadar kendaraan untuk meraih kekuasaan. Nafsu untuk berkuasa tidak dibarengi dengan konsolidasi sistematis di internal partai.

Akibatnya PG kelihatan rapuh. Elite partai di pusat hingga daerah tidak lagi peduli dengan kehidupan partai yang solid. Mereka umumnya memanfaatkan jabatannya di partai untuk mengincar kekuasaan semata. Maka, yang terjadi adalah kegagalan lebih banyak diterima daripada kemenangan.

Di sisi lain, pimpinan partai pasca-Orde Baru bukan figur kuat yang berkharisma. Akibatnya partai rentan dengan perpecahan dan faksionalisme. Walau tidak diakui pimpinan partai, namun sulit menyembunyikan bahwa ada faksi tersebut. Faksi umumnya lahir dari adanya persaingan untuk merebut kekuasaan, bukan karena masalah substantif terkait partai atau bangsa.

Jika tak menemukan lagi celah untuk bersaing di internal, faksi-faksi itu lalu mendirikan partai baru. Kondisi itu membuat konsolidasi partai semakin sulit.

Ciri lain dari PG setelah era reformasi adalah berkembangnya oligarki yang didasarkan pada kekerabatan bisnis dan kepentingan. Oligarki di tubuh Golkar dimulai dari kongsi yang dibangun ketika pemilihan ketuam umum (ketum). Umumnya pemenang kontestasi adalah orang yang menyediakan dana besar untuk membeli suara wakil dari daerah yang mengikuti pemilihan ketum.

Oligarki membuat tokoh potensial Golkar tersingkir dari struktur partai. Lagi-lagi situasi itu menggerogoti kepemimpinan ketum Golkar dan mandeknya konsolidasi internal partai.

Kerapuhan Golkar memang berhasil ditutupi oleh kepiawaian politisi-politisinya. Akan tetapi, sepandai-pandainya politisi Golkar menutupi borok perpecahan internal, publik tetap saja menilai adanya perpecahan atau faksi di internal Golkar.

“Hal penting bagi Golkar yang dilakukan saat ini adalah bagaimana membangun kembali kepaduan kader hingga daerah. Untuk membangun hal itu memang butuh pemimpin yang mau bekerja untuk partai secara penuh, tanpa menjadikan kursi partai hanya sebagai jembatan emas untuk merebut kekuasaan,” kata Lucius.

Visi

Terwujudnya Indonesia baru yang maju, modern, bersatu, damai, adil dan makmur dengan masyarakat yang beriman dan bertaqwa, berahlak baik, menjunjung tinggi hak asasi manusia, cinta tanah air, demokratis, dan adil dalam tatanan masyarakat madani yang mandiri, terbuka, egaliter, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja dan semangat kekaryaan, serta disiplin yang tinggi.

Misi

  • Mempertegas komitmen untuk menyerap, memadukan, mengartikulasikan, dan memperjuangkan aspirasi serta kepentingan rakyat sehingga menjadi kebijakan politik yang bersifat publik.
  • Melakukan rekruitmen kader-kader yang berkualitas melalui sistem prestasi untuk dapat dipilih oleh rakyat menduduki posisi-posisi politik atau jabatan-jabatan publik.
  • Meningkatkan proses pendidikan dan komunikasi politik yang dialogis dan partisipatif, yaitu membuka diri terhadap berbagai pikiran, aspirasi dan kritik dari masyarakat.

Pengurus

Ketua Umum: Aburizal Bakrie
Sekretaris Jenderal: Idrus Marham
Bendahara Umum: Setya Novanto

Alamat: Jl. Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat
www.golkar.or.id
Twitter: @Golkar5
Facebook: Partai Golkar

Sumber : Ayovote.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: