PPP


Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

PPP

Bertekad Kembali Menjadi Rumah Besar Umat Islam

Pada awal berdirinya, sekitar 40 tahun lalu, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) adalah salah satu partai besar, karena merupakan fusi dari empat partai politik (parpol) besar saat itu, yakni Partai Nahdlatul Ulama, Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Islam Perti.

Pada awal berdirinya, sebanyak 16 organisasi massa (ormas) juga bergabung ke PPP. Ke-16 Ormas itu adalah Muhamamdiyah, Jami’atul Washliyah, Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia (Gasbindo), Persatuan Islam (Persis), Nahdlatul Wathan, Mathla’ul Anwar, Serikat Nelayan Islam Indonesia (SNII), Kongres Buruh Islam Merdeka (KBIM), Persatuan Umat Islam (PUI), Al-Ittihadiyah, Persatuan Organisasi Buruh Islam se Indonesia (Porbisi), Persatuan Guru Agama Islam Republik Indonesia (PGAIRI), Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI), Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Al-Irsyad Al-Islamiyah, serta Wanita Islam. Kenyataan tersebut membuat PPP dikenal sebagai “Rumah Besar Umat Islam” pada masa lalu.

Namun saat ini, PPP semakin kehilangan pamor. Jika pada pemilu pertama yang diikuti PPP tahun 1977, partai ini meraih 18.745.565 suara (29,29 persen), sehingga mendapat 99 kursi di DPR (27,12 persen) dari total 360 kursi yang diperebutkan, pada Pemilu 2009, PPP hanya mendapat 5,5 juta suara (5,32 persen) dengan 38 kursi di DPR.

Parpol-parpol utama pada saat pendirian, satu demi satu meninggalkan PPP dan mendirikan partai sendiri. Demikian juga dengan ormas-ormas yang dulu bergabung, kini terpencar meninggalkan partai berlambang kabah.

Banyak pengamat memprediksi PPP menjadi salah satu parpol yang tidak mampu mencapai ambang batas masuk parlemen (parliamentary threshold/PT) sebesar 3,5 persen pada Pemilu 2014. Prediksi itu muncul setelah melihat perolehan suara PPP pada Pemilu 2009 dan juga kekuatannya terus berkurang dari waktu-ke waktu. Menyadari kondisi saat ini, dengan merefleksikan kondisi 40 tahun yang lalu, maka pimpinan PPP saat ini bertekad untuk kembali menjadikan PPP sebagai‘ “Rumah Besar Umat Islam”.

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP, Lukman Hakim Saifuddin mengemukakan ada tiga pengertian dari PPP sebagai rumah besar umat Islam. Pertama, PPP merupakan tempat kembalinya orang Islam, terutama untuk menyalurkan aspirasi dan menindaklanjutinya.

“Sebagaimana kita maklumi, di era reformasi banyak eksponen PPP yang pindah ke partai lain atau mendirikan partai baru. Selain itu, banyak organisasi Islam yang merupakan pendiri atau pendukung PPP yang memberikan dukungan kepada partai politik baru. Namun, di rumah baru itu banyak eksponen PPP yang mengalami kekecewaan. Nah, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi mereka yang telah meninggalkan PPP untuk kembali lagi berjuang bersama PPP dalam menyalurkan aspirasi umat Islam serta menindaklanjutinya,” kata Lukman.

Kedua, PPP adalah tempat bernaung atau berlindung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Lukman, PPP merupakan partai yang paling gigih memperjuangkan aspirasi umat Islam. Hal ini dilakukan sejak PPP berdiri sampai kini.

“Sebagai kompensasi atas berdirinya PPP sebagai partai Islam, maka PPP meredam keinginan sebagian umat Islam itu sendiri untuk mendirikan negara Islam atau mengganti Pancasila dengan asas Islam. Karena ternyata dalam negara Pancasila masih dimungkinkan berdirinya partai Islam yang mempunyai kebebasan memperjuangkan aspirasi umat Islam dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, keberadaan PPP dalam konteks NKRI sangat penting,” tutur Lukman yang kini menjabat wakil ketua MPR.

Ketiga, PPP merupakan tempat untuk menyatukan aspirasi umat Islam dan menindaklanjutinya, sehingga aspirasi umat Islam dapat terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sekjen PPP M Romahurmuziy menambahkan PPP sebagai rumah besar umat Islam juga berarti PPP bukan hanya terbatas pada empat parpol dan 16 ormas utama pada masa lalu. PPP kini membuka ruang kepada semua partai, ormas, dan komponen masyarakat, terutama umat Muslim, untuk bergabung ke PPP.

“Itulah arti PPP sebagai rumah bersama, dengan fokus utama kembali menghimpun dan mengajak parpol-parpol utama dan ormas-ormasnya untuk bergabung,” tutur Romy, panggilan akrab Romahurmuziy.

Tindak lanjut dari tekad tersebut adalah fungsionaris PPP di tingkat pusat, wilayah, cabang, anak cabang, dan ranting, harus meningkatkan hubungannya dengan partai Islam yang menjadi deklarator serta dengan organisasi Islam yang mendukung atau mendirikan partai deklarator PPP. Hal itu sangat penting agar PPP tidak kehilangan orientasi dan pijakan sejarahnya.

Selain itu, fungsionaris PPP sesuai dengan tingkatannya tidak perlu ragu mengangkat aktivis organisasi Islam sebagai pengurus, sehingga PPP betul-betul dapat menyuarakan kepentingan umat Islam karena dikawal oleh orang-orang yang paham akan aspirasi dan perjuangan umat Islam Indonesia. Bahkan, fungsionaris PPP di berbagai tingkatan harus memberikan ruang kepada organisasi Islam untuk dicalonkan oleh PPP sebagai anggota DPR/DPRD. bahkan sebagai pejabat publik.

Tidak Khas
Dalam pandangan peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lusius Karus, setidaknya ada empat alasan yang membuat PPP belakangan ini kalah berkompetisi dengan parpol-parpol yang baru lahir.

Pertama, karena ideologi Islam yang diusung oleh PPP juga menjadi ideologi partai lain. Dari sisi ideologi, PPP tidak bisa menampilkan wajah Islam yang khas jika dibandingkan dengan partai lain, seperti PKS, PKB, PBB, dan lain-lain.

Kedua, sejak pergantian rezim Orde Baru ke Orde Reformasi, PPP memilih selalu bermain aman. Partai ini ingin selalu dekat dengan kekuasaan, bahkan berkoalisi dengan parpol penguasa, tak peduli jika partai tersebut mempunyai ideologi yang berbeda. Orientasi kekuasaan membuat visi agamis PPP menjadi tak bermakna.

Ketiga, kader-kader besutan PPP sejauh ini belum ada yang mampu menyedot perhatian publik dengan gagasan luar biasa. Hal ini membuat PPP nyaris sama dengan partai-partai baru yang berjuang keras agar dapat dipilih setiap menjelang pemilu.

Keempat, sama dengan partai lainnya, PPP juga tidak menjadikan program pengkaderan sebagai misi utama untuk mempersiapkan regenerasi politik. Kelalaian melakukan pendidikan politik terhadap kader membuat PPP seperti partai yang kurang berakar pada akar rumput.

“Munculnya banyak parpol di era reformasi menuntut kematangan PPP untuk bersaing dengan parpol-parpol lain. Tetapi tantangan PPP sampai hari ini adalah bagaimana meredefinisikan partai tersebut di tengah serbuan partai baru,” tutur Lusius.

Visi

Terwujudnya masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT dan negara Indonesia yang adil, makmur, sejahtera, bermoral, demokratis, tegaknya supremasi hukum, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta menjunjung tinggi harkat-martabat kemanusiaan dan keadilan sosial yang berlandaskan kepada nilai-nilai keislaman.

Misi

  • Mewujudkan dan membina manusia dan masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, meningkatkan mutu kehidupan beragama, mengembangkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim). Dengan demikian PPP mencegah berkembangnya faham-faham atheisme, komunisme/marxisme/leninisme, serta sekularisme, dan pendangkalan agama dalam kehidupan bangsa Indonesia.
  • Memperjuangkan hak-hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia sesuai harkat dan martabatnya dengan memperhatikan nilai-nilai agama terutama nilai-nilai ajaran Islam, dengan mengembangkan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Dengan demikian PPP mencegah dan menentang berkembangnya neo-feodalisme, faham-faham yang melecehkan martabat manusia, proses dehumanisasi, diskriminasi dan budaya kekerasan.
  • Memelihara rasa aman, mempertahankan dan memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa dengan mengembangkan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa). Dengan demikian PPP mencegah dan menentang proses disintegrasi, perpecahan dan konflik sosial yang membahayakan keutuhan bangsa Indonesia yang ber-bhineka tunggal ika.
  • Melaksanakan dan mengembangkan kehidupan politik yang mencerminkan demokrasi dan kedaulatan rakyat yang sejati dengan prinsip musyawarah untuk mencapai mufakat. Dengan demikian PPP mencegah dan menentang setiap bentuk otoritarianisme, fasisme, kediktatoran, hegemoni, serta kesewenang-wenangan yang mendzalimi rakyat.
  • Memperjuangkan berbagai upaya dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT. Dengan demikian PPP mencegah berbagai bentuk kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, kesenjangan budaya, pola kehidupan yang konsumeristis, materialistis, permisif dan hedonistis di tengah-tengah kehidupan rakyat banyak yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Pengurus

Ketua Umum: Suryadharma Ali
Sekretaris Jenderal: M. Romahurmuziy

Alamat: Jl. Diponegoro No.60, Jakarta Pusat
http://www.ppp.or.id/
Twitter: @DPP_PPP

Sumber : Ayovote.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: